Tuesday, March 16, 2010

Bait Kelana Jiwaku Bag. 3 : "Rencana-rencana"

September 27th, 2009

Menyimpan suatu kabar gembira, memendamnya cukup lama, lalu menyampaikannya pada saat yang tepat, memang merupakan kebahagiaan tersendiri. Melihat merekahnya senyum, sepotong wajah yang cerah, gelegak tawa yang renyah, ah... sungguh menyenangkan. Namun yang terjadi kini adalah sebaliknya, kepalaku dipenuhi rencana-rencana yang akan mengejutkan semua orang. Dan aku tak mau senyum itu berubah sendu, cerah berubah gelap, tawa menjadi tangis. Cukup aku saja yang merasakannya. Karena itulah, lebih baik kusimpan erat-erat walau sungguh begitu berat.

Dalam diamku, aku telah merancang semua persiapanku untuk pergi ke Yogyakarta. Berbekal petuah dari seorang teman yang pernah kuliah disana, aku mulai merumuskan peta perjalananku nanti. Kota apa saja yang akan kulewati, pemberhentian bis, hal-hal yang mungkin akan kutemui, serta dimana aku akan tiba. Sebenarnya aku tak ingin pergi sendirian, apalagi tempat yang kutuju sama sekali awam bagiku. Mungkin ini semacam karma dari efek ketidakpedulianku akan ilmu geografi di masa-masa sekolah. Tapi, aku tak punya pilihan lain. Walau aku sendiri, aku begitu yakin... bahwa Allah akan melindungiku, bahwa tak ada satu pun kejadian yang terjadi di dunia ini tanpa seizin Allah SWT. Tak ada sehelai pun dedaunan yang jatuh, tanpa kehendak Allah.

***

Kota Pagar Alam, tujuh hari pasca lebaran, rata-rata masyarakatnya masih disibukkan dengan agenda silaturrahim dan resepsi pernikahan. Dingin sejuk udara paginya tak menyurutkan langkah untuk saling berkunjung di hari Ahad ini. Banyak ibu-ibu di jalan yang tengah membawa seekor ayam, pertanda bahwa ia tengah menuju ke rumah saudara atau teman yang akan mengadakan sedekah*). Banyak juga rombongan yang perempuannya memakai gaun kebaya serta berdandan, lalu laki-lakinya memakai baju batik dan peci, mereka juga akan menghadiri sedekah. Begitu banyak yang berduyun-duyun menghadiri pesta pernikahan. Seperti kami pagi ini, aku bersama tiga orang teman menghadiri Walimatul 'Ursy seorang sahabat. Ikut bahagia dengan kebahagiaannya, ikut mendoakan kebarokahan pernikahannya, ikut tertawa ceria dalam riang canda. Dan hari ini aku mulai belajar lupa. Melupakan kepiluan di hatiku, melupakan puting beliung yang sedang bertiup kencang di kepalaku. Melupakan wujud kesedihan yang harusnya menuai air mata. Aku tetap bersikap seperti biasa, saling bertegur sapa, bertukar cerita.

Hanya segelintir teman yang mengetahui rencana kepergianku ini. Dan aku tahu mereka pun terguncang dengan rencana gilaku. Tapi, keputusan yang telah kuambil tak dapat ditawar lagi. Azzamku sudah bulat. Apapun risikonya, akan kutenggak sekering-keringnya.

Di tengah hiruk-pikuk dan canda tawa teman-teman yang kujumpai, tanpa mereka tahu, aku terus berpikir keras. Memikirkan apa saja yang harus kulakukan sebelum meninggalkan Pagar Alam. Aku harus memikirkan semua detilnya, tak boleh ada satu pun yang terlupa. Karena aku pergi bukan untuk waktu yang singkat. Dan aku tak tahu kapan aku akan kembali lagi.


Aku mulai mengurainya satu persatu. Bisnis yang selama ini telah kurintis, harus kuhentikan. Pelanggan-pelanggan dengan sangat terpaksa harus kuabaikan. Siswa kursus harus kuberi pengertian, agar kelak ia mafhum kenapa tiba-tiba kursusnya kuhentikan. Komputer dan printer akan kujual dengan harga murah agar mudah terjual, hitung-hitung modal untuk membiayai hidup selama perantauanku nanti.

Aku juga harus memesan tiket, tiket menuju Yogyakarta. Menyiapkan barang apa saja yang harus kubawa, pakaian secukupnya, buku-buku tercinta, ijazah dan arsip-arsip penting, dan sebagainya.

Aku pun harus menjadwalkan, kapan harus mengembalikan amanah-amanah yang tengah kupikul. Amanah di BEM kampus yang tidak lama lagi akan mengadakan perhelatan besar, amanah di salah satu organisasi politik yang sama sekali tak ada penggantinya jika aku pergi, amanah di organisasi guide yang baru terbentuk, dan sebagainya. Mengumpulkan arsip-arsip dan surat-menyurat yang ada padaku, lalu berbagai macam soft files, semuanya harus kukumpulkan dan kukembalikan, tak boleh ada satu pun yang tercecer atau pun terlupa. Sebenarnya berat sekali, sungguh berat. Bukan ku bermaksud untuk meninggalkan amanah-amanah itu. Sungguh aku pun sedih. Namun aku tak punya pilihan lain, semua skenario Allah. Segunung maaf rasanya ingin sekali kutumpahkan. Tapi aku hanya bisa berharap, semoga yang kutinggalkan dapat memahami dan memaklumi keputusanku ini.

Kuliah pun, harus kuhentikan. Aku tak melihat kemungkinan bagiku untuk melanjutkan kuliah lagi. Akhirnya kuputuskan untuk mengundurkan diri. Aku harus membicarakan ini pada ketua program studi, lalu memberikan surat pengunduran diriku.

Lalu, aku pun harus berpikir keras. Kepada siapa saja aku akan berpamitan. Siapa saja yang akan kutemui untuk terakhir kalinya. Keluarga, sahabat dan teman dekat. Aku juga harus menjadwalkan, kapan aku akan menemui mereka sebelum keberangkatanku ke Yogyakarta.

Ah, rasanya seperti mimpi, tiba-tiba aku akan berpisah dengan mereka semua. Sekonyong-konyong aku harus pergi ke tempat yang sama sekali asing, bak dunia lain. Tapi aku harus tegar, kepalaku harus tetap tertegak, senyum harus tetap terukir. Dan aku harus bisa belajar melupakan banyak hal. Melupakan apa saja yang membuat hatiku remuk, lalu mengisinya dengan harapan-harapan baru serta keyakinan pada Allah. Bahwa Allah telah menyiapkan suatu rencana indah untukku di sana. Dan aku percaya, bahwa Allah akan memudahkan segala urusan hamba-hambaNya. Laa tahzan, innallaha ma'ana.


*)
Sedekah : Sebutan untuk rangkaian acara resepsi pernikahan.

3 comments:

iLLa said...

sepicless.. :((
tau gak, sayah nulis ini di sela2 cecetingan tengah malam kita yg suka dici dici ga jelas,huff..
saya ga yakin bakalan di kasi ketegaran seperti yg dianugrahkan-Nya untuk Cici. Jujur, jadi pengen nangis. After all those things,,, ya begitulah. Be Strong sistaa. We love you :)

*masi bingung mw bilang apa

Pradna Cahbagus said...

:)

begitulah masa lalu...

tapi,
disinilah Cici sekarang
jadi lebih tegar
lebih matang

:)

senja said...

assalamualaikum,...elsi ^^

kita udh foto2 bareng,saling komentr dan seru2n..tapi baru berkunjung ke rmh virtualmu :(

hemm,...akhirnya ^^

nice blog sahabat ^^